LENTERA #3

Februari 28, 2018
image by google
Satu hari nyaris penuh bersamamu, kita sama-sama membuka semua tentang perasaan yang tertahan. Kerap pandangan kerinduan itu menuntun kita untuk tidak saling menjauh. Perjalanan yang romatis dengan aura gerimis dan cuaca yang cerah seolah membujuk kita tetap dalam rasa yang semakin indah ini. Tawamu, bicaramu dan matamu yang tidak pernah diam itu. Mengusik aku untuk tetap memanjakanmu, menyayangimu dan mencintaimu lebih dari sebelumnya. Yaaa.. semakin hari aku akan mencintaimu lebih dari hari kemarin. Dan kamu tahu itu. Dalam gejolak emosi atau amarahmu sekalipun, rasaku tetap melambung dan mengakar diujung lembayung.

Tidak pernah cukup! Yang selalu kita rasakan saat merajut kebersamaan. Obrolan kita masih amat menyenangkan, walau terkadang cemburu di dadaku tertumpahkan. Kamu yang selalu membuat hati yang lain kasak kusuk, hingga mereka mencuri waktu dengan memaksakan untuk ada bersamamu. Hhhhh… rasanya ingin pergi menjauh dan menghilangkanmu dari pikiranku. Aku bukan sedang cemburu buta, aku dilanda kecewa dan amarah yang berulangkali ketika kamu ingkari tentang janji itu. Mencoba mengerti.. mencoba memahami, tapi hati dan rasa itu tidak pernah bisa sembunyi. Untung saja marah dan kecewaku masih bisa kuselipkan kesabaran didalamnya.

Lentera…
Jujur ada bisikan untuk meninggalkanmu saat untuk kesekian kali kamu pergi dengan salah satu dari mereka. Ada keinginan kuat untuk aku pergi bersama yang lain, dengan seseorang yang membuatmu menjadi kacau mungkin. Tapi aku tidak ingin menjadi dirimu. Aku adalah aku yang menghilangkan kegundahan ini dengan caraku. Dan sebisa mungkin tetap bisa menjaga hatimu, menjaga perasaanmu. Aku rapuh memang.. tapi aku masih tahu cara untuk menguatkannya. Iyaa.. ‘Kepercayaan’ jadi satu-satunya provokator yang enggan hilang dipikiranku. Aku masih percaya dan bisa merasakan kasih sayangmu yang nyata. Perhatianmu yang tidak biasa dan sapaan ‘sayang’ mu yang penuh makna. Hhhhhh… Seperti yang sering kamu katakan…

“Ketika bersama mereka, hatimu biasa saja, karena tetap hatimu milikku”

*****

"Niel pulang..."
Isi pesanmu via WA. Dan aku menghela nafas membacanya. Siap-siap saja aku kehilanganmu dengan kembalinya lelaki itu, lelaki yang kerap mengacuhkanmu disaat kamu butuhkan dirinya. Lelaki yang selalu asyik dalam petualangannya, yang membuatmu akhirnya jatuh kedalam hatiku. Sesak dan mengunggah perasaan kacau setiap kali mengingatmu bersamanya. Dan aku tahu, aku salah seperti itu. Dia suamimu, dan aku hanya seseorang yang mencintaimu dalam ketidakmungkinan ini. Kita sama sebenarnya saling mencintai, menyayangi dan lemah dalam kondisi seperti ini. Niel adalah ayah dari anak-anakmu. Sosok yang masih melindungimu sebenarnya, hanya dia pernah salah. Dan kepercayaanmu padanya sudah tidak sepenuhnya. 

Terkadang aku bersyukur Niel pernah mengecewakanmu. Andai saja dia selalu baik dan menjagamu, kita tidak akan pernah seperti sekarang...

Lentera...
Waktu kian hari berjalan, dan tak seharipun ingatan tentangmu menghilang di pikiranku. Aku dilanda demam sekarang, demam untuk menemuimu walaupun sebentar. Kamu tahu? aku tengah dilanda keram. Keram pada perasaanku yang lagi-lagi merindu tentangmu. Sudah cukup lama kita hanya berbicara dalam ruang social media. Dan kamu tahu persis, tanpa bisa melihatmu secara nyata adalah hukuman untukku. Ini salah... dan tidak akan menjadi benar ketika dirimu masih menjalin ikatan itu. Dan akan semakin salah ketika aku yang sendiri, mengharapkanmu bisa melepas status sakralmu...

Dalam kegelapan, hanya lilin yang terpijar. Kita berbicara lewat telepon. Dan sapaan rindumu melautkan kerinduanku. Kita sedang merasakan getarannya. Dan selalu bisa melukiskan tawa yang renyah. Tawa kehangatan yang dibumbui oleh kisah ketidakmungkinan tentang kita. Hmmm... 

1 komentar:

  1. Lama tak berkunjung kesini..bacaa bacaaa ahh... 😊😊😊

    BalasHapus

Makasih buat jejaknya... ^_^

Diberdayakan oleh Blogger.