3%

September 17, 2018

Tabiat waktu tidak pernah bisa kita tebak. Ketika waktu yang ditunggu dengan harapan mengguyur setumpuk rasa dengan baik-baik saja, ternyata hanya sebuah harapan semu dan menggulung ketidaksukaan perasaan masing-masing. Bahkan sebaliknya, ketika waktu yang tersaji kita ekspetasikan sebuah drama tragedi, faktanya 360 derajat kita menjumpai sajian waktu yang menunya membentuk pola senyum yang pudarnya hanya ketika kita memejamkan mata. (read: tidur)

Begitulah, atau begini.. Bahkan seorang sahabat selalu mengatakan gini-gini gitu-gitu. Hhhhh, entahlah... Hari ini seperti sedang mengunyah permen karet. Yang enggan membuangnya walau sudah berulang kali kehilangan rasa manisnya. Setidaknya, ada gelembung-gelembung yang menyudutkan pada rasa bahagia walau sesaat.

Selalu ada 'jika' ketika menghadapi sebuah keadaan bukan? Kali ini, jika waktu bisa di ulang, sepertinya hati tidak akan pernah tertaut seperti sekarang. Jika rasa yang dimiliki adalah ketidakberdayaan, mungkin tidak sekuat saat ini ikatannya. Jika dan jika sekarang menjadi pelampiasan kekecewaan. Dan akan terlalu picik ketika 'jika' menjadi alasan untuk keluar dari jeruji berlapis hati ini. 

Bukan penyesalan, hanya saja ini adalah barisan ribuan serdadu yang sedang berlatih untuk fight di medan perang. Semua baik-baik saja, semua adalah keindahan. Meninggikan kepedulian, melangitkan kasih sayang, mengemas rindu yang selalu dibumbui ketulusan, bukan pura-pura apalagi sedang latihan drama. Dan Tuhan menghadiahkannya disaat yang tepat. Mungkin....

Berbaik sangka adalah sikap yang dibenarkan. Namun, tentang hal yang tidak pernah kita prediksi ini terjadi begitu saja. Berjalan tanpa harus melalui track yang terjal. Berlari tanpa harus melewati duri. Benar adanya kalau semua kisah ini adalah seporsi sajian hidangan yang berbalut ujian. Karena apapun, soal hidup tidak melulu pujian. 

Hhhhh... ternyata masih saja menangisi rindu... rindu yang tak pernah habis oleh waktu. Tentangnya, adalah energi yang merubah diam menjadi sekumpulan tawa. Bahkan, ketika air mata menderas, ini karena cerita yang skenarionya tak pernah tertimbun dalam ingatan. Selalu menguap dan menjahit keinginan untuk tetap saling berbagi walau hanya 3%.

3% yang membersamai, sejatinya lebih dari apapun. Dan seperti katamu, sebenarnya kita sama... 

3 komentar:

  1. "Rasa", entah apa saja penggambaran nya, dia tetaplah satu kesatuan yang memiliki perbedaan. Rindu, bahagia, sedih, sakit, dan lain sebagainya, mereka tetaplah sebuah "Rasa" yang sewaktu-waktu bertengger tanpa terduga.

    BalasHapus
  2. Kata2nya begitu indah dan penuh makna dimana walaupun hanya 3% tapi angat special... ❤

    BalasHapus

Makasih buat jejaknya... ^_^

Diberdayakan oleh Blogger.