Waspada Pneuomia

Pekara kesehatan memang tidak pernah habis untuk menjadi topik penting dalam kehidupan manusia.  Karena sehat adalah faktor utama yang menjadi modal dalam melakukan aktivitas. Apapun bentuk aktivitasnya, selama tubuh sehat akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Bicara soal sehat pasti kita menghindar dari yang namanya sakit. Dan perkara sakit, kita mengenal banyak macam penyakit. Salah satunya adalah pneuomia, jenis penyakit yang wajib diwaspadai orang tua yang memiliki anak usia balita. 

Aika Renata (MC-KBR), Dr. Madeleine Rhamdani Jasin, S.Pa (IDAI) & Selina Patta Sumbung (Ketua. YSTC)
Kamis, 13 Desember 2018 Kantor Berita Radio - KBR berkolaborasi dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mengadakan talkshow tentang Kesehatan, dengan tema “Mengenal dan mencegah Pneuomia Pada Anak”. Bertempat di Tjikini Lima Restoran - Jakarta Pusat. Acara yang dihadiri oleh para blogger, orang tua yang memiliki anak penderita pneuomia dan para peduli kesehatan ini mendapat respon yang sangat baik. Dipandu MC dari Radio KBR Mbak Aika Renata, dengan Narasumber sbb:
  1. Selina Patta Sumbung - Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save The Children
  2. Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A - Ikatan Dokter Anak Indonesia
  3. Ibu Yati - Orang Tua Anak dengan Gejala Pneumonia di tahun 2016 dari Desa Nagrak Kab. Bandung
Talkshow inipun dapat di simak secara live  di lebih 100 Radio jaringan - KBR di Nusantara. Dan di Jakarta dapat disimak via channel 89,2 FM Radio-KBR. 

Mbak Aika Renata mengawali acara ini dengan informasi singkat mengenai Pneuomia. Bahwa setiap 1 menit, 2 anak meninggal dunia karena pneuomia, 99% dari negara berkembang. Mirisnya faktor tersebut terjadi karena prilaku orang tua dan lingkungan. Di Indonesia, pneuomia menjadi satu diantara penyebab kematian tertinggi kedua yang diderita anak-anak usia dibawah lima tahun. 

Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Apa itu Pneuomia?
Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), membuka session ini dengan penjelasan bahwa Pnueomia memiliki nama awam sebagai radang paru-paru yaitu adanya peradangan pada paru-paru yang terjadi karena insfeksi virus, bakteri, jamur dan lainnya. Namun paling sering terjadi karena virus dan bakteri. Sehingga menyebabkan sesak nafas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernafas. Dampaknya, kantong udara pada paru-paru yang seharusnya menjadi udara berubah menjadi cairan atau nanah. Sehingga  kekurangan oksigen membuat penderita yang berat akan berakibat pada kematian.

Pada session sharing,  Ibu Yati, ibu dari seorang balita penderita pneuomia bernama Witri menceritakan, Witri pada usia 3 (tiga) bulan awalnya mengalami batuk kemudian sesak yang kelamaan menjadikan kondisi Witri menjadi parah. Dari kondisi tersebut Ibu Yati membawa Witri ke dokter setelah 1 minggu kondisinya tidak mengalami perubahan dan di diagnosa Witri tersedak air susu. 

Session sharing dari Ibu Yati direspon oleh Dr. Madelaine dengan pemaparannya yaitu, gejala pneuomia sering diawali dengan batuk, pilek, demam yang terjadi melalui saluran nafas dan akan berkembang menjadi sesak sehingga dapat mengakibatkan pneuomia. Pentingnya deteksi dini adalah dengan melakukan tindakan segera membawa ke Rumah Sakit. 

Ketika sudah terlihat kondisi anak dengan nafas cepat, tidak ada cekungan di dinding dada, hingga adanya tarikan dinding dada, pada kondisi seperti itu akan fatal jika tidak ditangani dengan baik , tidak segera dibawa ke akses kesehatan akan berakibat kematian.

Sesi berikutnya Selina Patta Sumbung  selaku Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children menjelaskan peran serta  Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children. Dijelaskan oleh beliau Save The Children berdiri pada tahun 1919 di London, Inggris. Dan didirikan oleh seorang wanita bernama Eglantyne Jebb. berawal ketika Eglantyne Jebb melihat penderitaan dan kelaparan terhadap anak-anak pada perang dunia ke-1, lalu berinisiatif untuk mendirikan Save The Children. Dia mengatakan...
“Setiap bentuk perang adalah perang terhadap anak. Karena yang menjadi korban adalah selalu anak-anak.”
Sehingga Save The Children menjadi organisai global dengan visi semua dunia semua anak memiliki hak untuk hidup, belajar dan dilindungi. Save The Children adalah organisasi yang berpihak pada anak.  Di Indonesia Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save The Children berdiri pada tahun 2014 dan bergerak dibidang kemanusiaan khususnya fokus dlm pendidikan anak2-anak dengan mengedepankan pilar-pilar sbb:
  1. Kesehatan
  2. Pendidikan
  3. Kemiskinan
  4. Perlindungan
  5. Hak anak
  6. Tanggap darurat bencana, seperti saat ini sedang respon pada bencana Palu dan Lombok.
Pada tahun 2017 Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children sudah bekerja untuk 10 Provinsi, 40 Kabupaten, 316 Kecamatan dan 857 Desa. Secara keseluruhan program ini  telah memberi dampak kepada 150rb anak, 82rb orang dewasa, 832rb orang di seluruh Indonesia. Dengan area kerja meliputi Aceh, Sumatera Barat, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat , Jogjakarta , Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan.

Pesan dari  Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children (YSTC) untuk mengurangi semakin meningkatnya penderita pneuomia  yaitu :
  1. Meningkatkan awarness, radang paru adalah pembunuh kedua terbesar untuk balita yang jika dibiarkan memburuk
  2. Pemberian asi ekslusif dan makanan bergizi sangat penting untuk daya tahan tubuh pada anak
  3. Pemberian imunisasi lengkap
  4. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap pneumia. Penggunaan air bersih dalam memandikan dan pemberian makanan pada anak. kemudian penggunaan air sabun pada waktu kritis, yaitu pada waktu sebelum makan, BAB, sebelum menyusui, sebelum menyiapkan makanan dan setelah menceboki balita selalu mencuci tangan.
Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children  (YTSC) memiliki program untuk 3 tahun (2019-2021)  kedepan  yaitu:
  1. Publikasi makalah kebijakan, studi kasus tentang pneuomia
  2. Sosialisasi intensif melalui aksi publik dengan kelas ayah. Sehingga ayah turut berperan apalagi seorang ayah yang perokok
  3. Aksi pengenalan cuci tangan dengan sabun untuk anak-anak PAUD sehingga terbiasa hidup higenis
  4. Mobilisasi dengan mencari brand ambasador ynag dapat menyuarakan isu tentang pneuomia
Selain session sharing dari kedua narasumber, pada talkshow inipun diadakan session Tanya jawab, yang dapat dilakukan via telpon interaktif bebas pulsa, WhatsApp juga live dari tempat acara berlangsung. Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang ada pada talkshow tsb. Antara lain: 

1. Penelpon dari Bengkulu  Bpk. Tudin, memiliki anak berusia 7 tahun, yang mengalami kasus ketika tidurnya telentang si anak keselek lalu pingsan, dan di diagnosa oleh dokter menderita epilepsi. Pertanyaannya apa kaitan pneuomia dengan epilepsi? 

Jawaban Dr. Madeleine: faktor resiko pneumioa adalah apabila ada masalah otot dan persyarafan, seperti tidak bisa bangun dan kaku ada kemungkinan menderita pneuomia. 

2. Pertanyaan dari peserta talkshow, Mbak Ulfa (Blogger) dapatkah pneuomia terjadi pada anak diatas balita, karena ybs memiliki anak SD berusia 11 tahun yang menderita sesak dengan diagnosa asma. Namun terkadang sesak, apakah dapat dikatakan terkena pneuomia.

Jawaban Dr. Madelaine:
Pneuomia bisa kena kepada siapa saja, dengan usia berapa saja, jenis kelamin dan semua kalangan. Khas pneoumia adalah sesak yang diawali batuk, flu, demam dll. Influenza, radang tenggorokan, tapi ketika terus terjadi dlm waktu seminggu. Dengan nafas cepat dan tarikan dinding kedalam ada kemungkinan pneoumia. Namun untuk kasus anak Mbak Ulfa lebih kepada radang tenggorokan saja. 

3. Pertanyaan dari WhatsApp: Maya - Depok 
Dapatkah pneuomia terjadi pada masa bayi masih  dalam kandungan? Dan apakah kipas angin menjadi pemicu pneuomia?

Jawaban Dr. Madelaine:
Ada kelompok kecil bayi baru lahir bisa jadi kena pneoumia, karena rentan terjadi insfeksi dalam kandungan sehingga dapat saja terjadi. Kipas angin bukan penyebab langsung pneumia. Namun kipas angin yang kotor dapat lebih merangsang kuman berkembang biak, sehingga terjadi pneomia

4. Pertanyaan via telepon Bp. Herman dari Sintang - Kalimantan Barat
Apakah pneuomia penyakit keturunan? Apa  ciri-cirinya dan bagaimana cara mesosialisasikan pada masyarakat awam tentang pneuomia?

Jawaban Dr. Madelaine: 
Pneuomia bukan penyakit keturunan melainkan penyakit infeksi, yaitu ada virus atau kuman yang masuk kedalam tubuh dan berkembak biak. Sehingga masih dapat dicegah. Talkshow ini adalah salah satu cara memberi informasi mengenai pneuomia agar masyarakat sadar akan gejala pneuomia.

5. Pertanyaan dari peserta talkshow, Mbak  Febri (Blogger).
Apakah penyakit  pneuomia ditanggung BPJS, dan apa yang dimaksud disebabkan oleh prilaku orang tua?

Jawaban Dr. Madelaine: 
Penderita penyakit Pneuomia di cover BPJS, Pneuomia dapat menular melalui udara, batuk, bersin dan benda-benda pribadi. Sehingga peran orang tua sangat krusial dalam hal ini.  

Jawaban Ibu. Selina Patta Sumbung:
Mengenai prilaku orang tua, sebaiknya sadar akan 3 (tiga) hal sbb:
- Memberikan imunisasi lengkap agar daya tahan tubuh lebih kuat 
- Memberikan asi ekslusif 6 (enam) bulan
- Lingkungan yang baik (rajin cuci tangan, stop merokok dll)

6. Pertanyaan dari peserta talkshow, Mbak  Laily (Blogger).
Kalau sudah terkena pneuomia dapat sembuh total atau tidak, dan biayanya mahal atau tidak? 

Jawaban Dr. Madelaine: 
Penderita pneuomia dapat sembuh total namun untuk penyakit berat sembuh agak lama dan tumbuh sisa. Soal biaya, vaksin sebagian besar sudah dicover pemerintah. Sehingga tidak mahal 

7. Pertanyaan dari peserta talkshow, Warisman (Blogger):
Berapa persentase penderita pneuomia di Jakarta? Dan apakah Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children  (YTSC) bekerjasama dengan kementrian kesehatan?

Jawaban Dr. Madelaine:
Untuk di  Jakarta belum bisa dianalisa berapa persentasenya, namun pneuomia paling banyak di wilayah NTT dan Jawa Barat yang mencapai lebih dari 30%.

jawaban Ibu. Selina Patta Sumbung:
Kerjasama dengan kementriann kesehatan dalam waktu dekat akan melaunching kampanye nasional untuk merubah prilaku orang tua.

8. Pertanyaan dari Santi (WA) apakah AC dapat menyebabkan pneuomia?

Jawaban Dr. Madelaine : 
Dalam kamar ber-AC dan sirkulasi tidak baik itu disebut penyebab tidak langsung. Pastikan sirkulasi udara baik dan rutin di bersihkan tidak ada masalah.

Talkshow yang di desain secara atraktif ini menambah pengetahuan bahwa Indonesia masih siaga dalam hal pencegahan kasus kematian tertinggi kedua yang disebabkan oleh pneuomia. Peran orang tua adalah prioritas, selanjutnya peran akademisi kesehatan juga komunitas seperti NGO  yang memiliki komitmen untuk selalu peduli kesehatan masyarakat juga sangat dibutuhkan agar dapat mengendalikan dan menanggulangi meningkatnya penyakit ini.

Diakhir talkshow Ibu. Selina Patta Sumbung mengajak seluruh peserta talkshow untuk menyuarakan Slogan MARI BERSAMA STOP PNEUOMIA! yang disingkat sbb:
  1. S = aSi sampai 6 (enam) bulan
  2. T = Tuntaskan imunisasi
  3. O = Observasi sesak nafas segera periksa ke dokter
  4. P = Pastikan kecukupan gizi
Foto bersama peserta dan Narasumber Talkshow 

Semoga orang tua di Indonesia, dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan gejala pneuomia! 

Sekian semoga bermanfaat. Salam blogger..

#FightForBreath
#BerpihakPadaAnak
#StopPneuomia


Komentar

  1. Korban pada anak jangan sampai terjadi karena pneumonia.

    Waspada dengan melakukan pencegahan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Makasih buat jejaknya... ^_^

Postingan populer dari blog ini

Edukasi Fintech dari Cashwagon untuk Warga Purwakarta

Good Smile, Good Life!

EDIVA SERIES PEDULI PEREMPUAN INDONESIA